Keropos Pada Tulang Ancam Wanita Usia 30 Tahun

Posted on

Wanita menopause mudah terkena osteoporosis. Sebab, estrogen mempengaruhi pembentukan tulang, melalui sel-sel tulang osteoblas (pembentukan tulang) dan osteoklas (penyerapan tulang). Dan, hingga kini, pada sel-sel tulang osteoblas hanya ditemukan reseptor hormon estrogen. Sehingga, tanpa hormone estrogen, proses pembentukan tulang baru mengalami gangguan.

Dikatakan oleh Prof. Dr. dr. Ichramsjah A. Rachman Sp.OG, Penurunan kadar hormon estrogen pada wanita menyebabkan penurunan masa tulang 2,5-5% pertahun. Sehingga, selama kehidupannya wanita kehilangan masa tulang 45-50%. Sedangkan pria hanya 20-30%, karena penurunan testosteron pada usia 65 tahun. Penurunan masa tulang akan lebih cepat jika puncak masa tulang tidak tercapai pada usia 30 tahun.

Faktor genetik dan lingkungan sangat berperan pada terjadinya osteoporosis. faktor lingkungan antara lain adalah gizi, aktifitas fisik, gaya hidup, hormon, paparan terhadap sinar matahari dan obat-obatan. Asupan kalsium dan energi sangat menentukan batas pertumbuhan tulang yang optimal.

 

Penanganan Osteoporosis

Olah raga merupakan cara tepat untuk meningkatkan kepadatan tulang. Oleh raga yang tepat adalah weight bearing excersice yang regular. Latihan ini tidak hanya berguna untuk pencegahan, tapi juga sebagai tindakan terapi. latihan beban yang dilakukan sejak dini dapat mempertahankan kepaatan tulang dan mencegah fraktur osteoporosis. Selain itu, penderita harus menghindari rokok, alkohol dan konsumsi kopi.

Terapi farmakologis tidak hanya untuk penderita yang telah mengalami fraktur, tetapi yang utama adalah untuk mencegah terjadinya fraktur. Rekomendasi terapeutik didasarkan pada usia, T-score, dan ada tidaknya faktor risiko. Guideline dari National Osteoporoses Foundation tahun 2003 merekomendasikan intervensi farmakologis untuk menurunkan risiko fraktur pada wanita dengan T score <-2 tanpa faktor risiko, wanita dengan T score <-1,5 dengan faktor risiko lain dan wanita pasca menopause dengan fraktur veterbra atau pinggul yang perlu

 

Terapi farmakologis yang diberikan meliputi :

Kalsium dan vitamin D

Diet yang optimal untuk pengobatan atau pencegahan osteoporosis meliputi asupan kalori yang adekwat untuk mencegah malnutrisi, kalsium dan vitamin D. Suplemen kalsium dan vitamin D merupakan asupan yang penting dalam proses mineralisasi tulang dan merupakan terapi lini pertama pada penderita dengan risiko fraktur osteoporosis.

Wanita pasca menopause dan pria lansia seharusnya mendapatkan asupan kalsium yang adekwat, dengan dosis 500-1000mg/hari dalam dosis terbagi pada waktu makan. Hal ini setara dengan dosis kebutuhan tubuh dalam diet sekitar 1500mg/hari. Sementara kebutuhan vitamin D sekitar 800IU/hari.

Bisfosfonat

Bisfosfonat merupakan agen penghambat aktifitas osteoklas. Bisfosfonat menghambat resorpsi tulang dengan efek samping yang minimal, sehingga banyak digunakan untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis. Alendronat 910mg/hari atai 70 mg/minggu) atau Risendronat (5mg/hari atau 35mg/minggu) merupakan pilihan terapi yang bagus untuk pengobatan osteoporosis.

Sedangkan untuk pencegahan, alendronat digunakan dalam dosis 5mg/hari atau 35 mg/minggu. Atau bisa juga dengan Risendronat dalam dosis 5mg/hari atau 35mg/minggu. Obat tersebut dapat meningkatkan densitas tulang dan menurunkan insiden fraktur.

Terapi estrogen

Terapi estrogen akan memperlambat proses resorpsi tulang, sehingga memperlambat keropos tulang. Terapi estrogen bisa diberikan bersamaan dengan bisfosfonat, yang akan menurunkan risiko fraktur vertebrata sebesar 33% dan fraktur osteoporosis lain sebesar 23%.

Selective Estrogen Receptor Modulator

Raloxifen merupakan SERM yang telah direkomendasikan oleg FDA untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis. Raloxifen meningkatkan kepadatan tulang dan menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol kolesterol LDL, tanpa menstimulasi hiperplasi endometrium atau perdarahan vaginal karena bekerja secara antagonis terhadap estrogen di uterus. Selain itu, raloxifen juga menurunkan insidensi fraktur vertebra dan menurunkan risiko kanker payudara.

Kalsitonin

Kalsitonin merupakan hormone yang menurunkan proses resorpsi tulang, beraksi langsung terhadap osteoklas. Kalsitonin diberikan dalam bentuk nasal spray atau injeksi subkutan dan intramuskuler. Kalsitonin telah direkomendasikan oleh FDA untuk pengobatan osteoporosis karena dapat meningkatkan kepadatan tulangdan menurunkan risiko fraktur vertebra. Kalsitonin memiliki efek analgesic, sehingga diberikan sebagai obat tambahan jika nyeri menjadi problem utama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *